Biografi

Pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif (KH. Bisri Syansuri)

Masa Kecil

Kiai Haji Bisri Syansuri dilahirkan oleh seorang ibu yang bernama Siti Rohmah dan ayah yang bernama Sansuri  di Pati, Jawa Tengah, 18 September 1886. Kiai Haji Bisri Syansuri merupakan putra ketiga dari 5 bersaudara. Kiai Haji Bisri Syansuri dilahirkan di Tayu, desa asal ayahnya, sebuah ibukota kecamatan yang terletak lebih kurang 100 kilometer arah timur laut Semarang, dalam kawasan pesisir pantai utara Jawa yang memiliki budaya sosial-keagamaannya. Sebagai salah satu titik dalam jalur daerah yang penduduknya teguh memegang tradisi keagamaan mereka, yang mernbentang dari Demak di timur Semarang hingga Gresik di barat laut Surabaya, Tayu merupakan latar belakang geografis yang sangat mewarnai pandangan hidup Bisri di kemudian hari turut membentuk kepribadiannya.

Riwayat Pendidikan

Perjalanan awalnya Bisri memulai belajar agama yaitu dengan belajar membaca kitab suci Al-quran dengan aturan bacaan (Tajwid), serta juga belajar Nahwu, Shorof, Fiqih, Tauchid, Tafsir, Hadist, Mantiq yang benar pada Kiai H.M Amin di desa Tayu dan ayahnya pada tahun 1896.

Setelah beberapa saat mengaji kepada kiai H.M Amin di desa Tayu dan kiai Abdul Salam di desa Kajen yang keduanya ditempuh di kota Pati. Kemudian KH. Bisri Syansuri meneruskan perjalanannya ke Madura tepatnya di Bangkalan pada tahun 1906. Di tempat ini KH. Bisri Syansuri  belajar pada KH. M. Khalil dan Bisri Syansuri mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof sebagai pendukung ilmu Al-qurannya.

Setelah selesai mempelajari ilmu Nahwu dan Shorofnya di KH. M. Kholil, Bisri Syansuri meneruskan pendidikan Ilmu Nahwu dan Shorofnya  ke daerah Jawa bagian tengah, tepatnya di daerah Sarang Kabupaten Rembang yaitu pada KH. M. Oemar pada tahun 1907.

Setelah berguru KH. M. Oemar di Sarang Rembang, kemudian tradisi ‘nyantri keliling’ itu KH. Bisri Syansuri meneruskan petualangan dalam pencarian ilmu agamanya di Pesantren KH. Hasyim Asyari di desa Tebuireng Jombang pada tahun 1908, yang mempelajari tentang ilmu usul, Fiqih, Ilmu Hadist dan Ilmu tafsir. Di Pesantren ini KH. Bisri juga bersama teman karibnya yaitu KH. Abdul Wahab Hasbullah yang bertemu di Madura.

Setelah memperoleh pendidikan pesantren di Tebuireng, Pada tahun 1913 pemuda Bisri Syansuri berangkat melanjutkan pendidikan ke Mekkah. Semasa belajar di Makkah, KH. Bisri Syansuri belajar pada sejumlah ulama terkemuka di tanah suci Mekkah, seperti Syaikh Muhammad Baqir, Syaikh Muhammad Sa’id Yamani, Syaikh Ibrahim Madani dan Syaikh Jamal Maliki. Juga kepada guru-guru dari ‘sang guru’ Kiai Hasyim Asy’ari, seperti Kiai Ahmad Khatib Padag, Syu’aib Daghistani dan Kiai Mahfuz Termas. 

Keluarga

KH. Bisri Syansuri menikah dengan Hj. Chodidjah (adik KH. Abdul Wahab Hasbullah) di Makkah dan pada tahun 1914 yang sama kedua suami isteri baru itu kembali ke tanah air. KH. Bisri Syansuri membantu mengajar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang, yang diasuh oleh mertuanya (Kiai Hasbullah).

Dari perkawinan tersebut KH. Bisri Syansuri mendapatkan keturunan  yaitu anak pertama Kiai Achmad Athoillah lahir pada 18 Juni 1916 (17 Sya’ban 1334 H) , kedua Nyai Moeasshomah lahir pada 06 Juli 1921 (29 Syawal 1339 H), ketiga Nyai Solichah lahir pada 19 Desember 1923 (11 Jumadil Awal 1344 H), keempat Moesjarrofah 31 Desember 1925 (15 Jumadil Akhir 1344 H), kelima Moechamad Aliaschab, yang kemudian dikenal dengan KH. Abdul Aziz Bisri  03 Agustus 1929 (27 Safar 1348 H) dan keenam Moechamad Sochib 21 November 1932 (23 Rajab 1351 H).