Sejarah

Sejarah Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang

Gagasan dan Pendirian Pondok Pesantren

Kiai Bisri bukanlah orang yang dengan tiba-tiba datang lalu menjungkir-balikan semua nilai kehidupan yang dianut secara umum, melainkan seorang warga masyarakat yang tidak memisahkan diri dari jalur umum kehidupan. Kalaupun ada perbedaan antara moralitas atau nilai yang dianutnya dengan apa yang terjadi di sekelilingnya, itu diupayakan dengan tidak menghadapkan moralitas dan nilainya itu secara frontal. Kiai Bisri melakukannya dengan memberikan contoh bagi mereka yang mau mengikutinya. Kiai Bisri tidak berdakwah keluar, melainkan hanya berdakwah di tempat sendiri. Dengan begitu, mereka berkeinginan mengubah diri mereka sendiri secara pelan-pelan. Pendekatan ini menghasilkan dua hal sekaligus, yaitu mengubah pola hidup masyarakat sekeliling secara berangsur-angsur, dan mengundang datangnya orang luar desa untuk belajar ilmu-ilmu agama darinya. Murid pertama Kiai Bisri datang dari anak tetangga desa, di samping Abi Darda yang datang dari desa tetangga, sekitar empat kilometer arah selatan Denanyar. 

Sejarah Pendirian Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang;  Perintisan Pondok Pesantren Perempuan

Murid awal sebanyak empat orang, tinggal di surau yang didirikan Kiai Bisri pada tahun 1917 M dengan jalan menyekat sebagian ruang suarau itu untuk kamar tempat tinggal mereka. Sistem pendidikan yang digunakan masih bersifat sorogan, yaitu bimbingan individual untuk menguasai teks-teks lama secara bertahap. Pendidikan dengan sistem itu dilakukan Kiai Bisri secara tekun selama dua tahun tanpa ada tanda-tanda akan dilakukannya cara lain untuk mendidik para santrinya. Pada waktu itu KH Bisri Syansuri hanya menyediakan tempat untuk santri putra. Karena, santri putra dianggap sangat vital untuk digembleng secara fisik. Kala itu, penjajah tidak hanya dianggap telah menjajah secara ekonomi tapi juga secara kultur. Penjajah telah membawa budaya barat yang berbeda dengan budaya setempat yang lambat laun dapat mempengaruhi masyarakat setempat. Secara moral masyarakat setempat dianggap telah bobrok akhlaknya, kekejaman di mana-mana, moral para wanita menjadi rusak, wanita menjadi binal,dan tak mau menerima bimbingan ulama.  Oleh karena itu pondok pesantren berusaha membentengi santrinya dari pengaruh budaya yang dapat merusak akhlak. Pembinaan akhlak santri ditanamkan bahkan sampai cara berpakaianpun para santri harus berbeda dengan penjajah dan pengikut-pengikutnya. Kemudian semakin hari pembinaan akhlak di pesantren semakin dapat dirasakan oleh masyarakat dan PP Mambaul Ma’arif semakin di kenal oleh masyarakat luas.

KH. Bisri Syansuri dan Hj. Chodidjah membuat keputusan berani dengan membuka kelas khusus perempuan sekitar tahun 1927 di Pondok Pesantren Denanyar. Langkah ini yang pertama di kawasan Jawa Timur. Santrinya adalah anak tetangga sekitar, yang diajar di beranda belakang rumah KH. Bisri Syansuri sendiri. Langkah penting ini adalah percobaan pertama di lingkungan pesantren untuk memberikan pendidikan sistematis kepada anak-anak perempuan muslim, setidak-tidaknya di Jawa Timur. 

Langkah yang demikian dianggap kurang sesuai di mata ulama pesantren itu tidak luput dari pengamatan gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari, sehingga pada suatu hari sang guru datang melihat sendiri perkembangan yang terjadi di pesantren muridnya itu. Walaupun tidak memperoleh izin spesifik dari sang guru. KH. Bisri Syansuri memilih melanjutkan pengajaran itu, karena juga tidak ada larangan datang dari sang guru, KH. Hasyim Asy’ari. Ketetapan hatinya untuk meneruskan percobaan  adalah suatu perubahan sikap cukup besar dalam diri KH. Bisri Syansuri. Diterimanya perempuan menjadi santri dalam sebuah pesantren, waktu itu bukanlah hal yang lazim dan tidak pernah terjadi sebelumnya. Perlahan namun pasti pesantren yang diasuh oleh Bisri mengalami perkembangan cukup pesat.

Sumber:

H. M. Bibit Suprapto, Ensiklopedia Ulama Nusantara: Riwayat Hidup, Karya, dan Sejarah Perjuangan 157 Ulama Nusantara, (Jakarta: Gelegar Media Indonesia, 2010

Arsip Nasional Republik Indonesia, III-6 Pendaftaran orang Indonesia jang terkemoeka jang ada di djawa, Kijai Hadji Moechmad Bisri

Hilmy, Nailud Durroh, Yusuf Suharto, Biografi KH. Bisri Syansuri (Jombang: Panitia Satu Abad PP. Mamba’ul Ma’arif, 2014)Kendi Setiawan, Perjuangan Kiai Bisri Membangun Pesantren Mambaul Ma’arif (diakses pada 10/1/2021 https://mitra.nu.or.id/post/read/96518/perjuangan-kiai-bisri-membangun-pesantren-mambaul-maarif